Mencintai Ladang Ilmu

Profil Penulis

Nama Lengkap            : Ambarnia

TTL                                 : Sumedang, 11 November 1998

Alamat                            : Jl. Pager Betis KM. 08 Rt 02 Rw 02 Desa Citengah Kecamatan Sumedang Selatan Kabupaten Sumedang Jawa Barat

Asal Sekolah                  : SMAN 1 Sumedang

Jurusan/Fakultas         : Bahasa dan Sastra Arab/ Fakultas Adab dan Humaniora

Tema                               : Mahabbah Terhadap Ilmu, Guru dan Sesama

 

Sebagaimana Rasulullah shallallahu „alaihi wa salam bersabda, bahwasanya seorang penuntut ilmu harus menghiasi dirinya dengan adab dan akhlak mulia. Dia harus mengamalkan ilmunya dengan menerapkan akhlak mulia, baik kepada dirinya sendiri maupun kepada orang lain. Adapun yang dimaksud akhlak adalah tingkah laku atau perangai yang dilakukan secara terus menerus. Akhlak berkaitan erat dengan perbuatan seseorang. Maka, akhlak mulia adalah perbuatan baik yang dilakukan oleh seseorang.

Dalam kitab karangan Umar bin Ahmad, Akhlaqul li – Banin menyebutkan bahwa di samping mengajarkan ilmu, seorang guru juga mengajarkan akhlak, memberikan nasihat yang bermanfaat, dan mengharapkan kita menjadi orang yang terdidik untuk masa yang akan datang.

Mahabbah dapat berarti Al – Waduud, yakni sangat kasih atau penyayang. Dalam pandangan Tasawuf, mahabbah berarti mencintai Allah yang di dalamnya mengandung arti patuh kepadaNya. Cinta kepada Allah akan melahirkan bentuk kasih sayang kepada sesama, bahkan kepada seluruh semesta. Seorang guru mencintai muridnya seperti orangtua mencintai anaknya. Cinta orangtua kepada anaknya tumbuh seumpama tunas yang mengakar ke dalam tanah, tumbuh alami sebab Allah titipkan kepada hati mereka rahmat untuk saling mengasihi dan menyayangi. Sehingga mereka dapat menyayangi dan mengasihi kita.

Rasulullah Saw bersabda “… dari sebagian bumi tersebut ada yang subur yang dapat mengendapkan air lalu menumbuhkan tumbuh – tumbuhan dan rumput – rumputan yang banyak, dari sebagian bumi tersebut ada yang gersang yang hanya dapat menampung air yang oleh Allah manfaatkan untuk manusia sehingga bisa dipergunakan untuk minum, meminumi ternaknya dan untuk kepentingan pertanian …” (Hadits Bukhari dan Muslim). Hadits tersebut adalah perumpamaan bagi orang yang pandai dalam agama Allah dan memanfaatkan apa yang diamanatkan oleh Allah. Kemudian, setelah ia mengetahui lantas mengerjakan dan mengamalkannya.

Seorang murid akan selalu merindukan gurunya. Baginya, beliau seperti  hujan rintik yang meneduhkan tanah ilmunya yang gersang. Dan kehadirannya sungguh sangat dinantikan oleh bumi dan seluruh mahluk. Seorang guru tidak  hanya mengajarkan ilmu. Tapi dengan kasih dan sayangya, seorang guru senantiasa memberikan nasihat, mengajarkan untuk mengaji hati sehingga kita benar – benar memiliki akhlakul karimah, bukan hanya kepada manusia namun kepada semua mahluk di muka bumi ini. Bahkan dalam syairnya Ali bin Abi Thalib r.a berkata, “Barang siapa yang mengajari aku satu huruf, maka aku adalah budaknya.” Menunjukkan betapa terhomatnya seorang guru dan perannya yang sangat penting, sehingga dengan menjadi budaknya saja tidak cukup membalas
kebaikan beliau. Sungguh, kita tidak bisa membalas apa yang mereka lakukan walaupun dengan bumi dan seisinya.

Maka dari itu, adapun beberapa hal yang harus diperhatikan apabila seorang murid mencintai gurunya adalah sebagai berikut:
1. Menghormati guru
Salah satu kewajiban seorang murid adalah menghormati guru seumpama hormatnya seorang anak kepada kedua orangtuanya. Apabila seorang murid duduk di depan gurunya, maka duduklah dengan sikap yang sopan dan beArbicara dengan kalimat dan tutur kata yang lembut. Kemudian mendengarkan apa yang dijelaskan dengan seksama.

2. Rajin hadir dalam majelis ilmu
Rajin hadir dalam majelis ilmu dan selalu berusaha untuk hadir kecuali ada udzur syar‟i. Dari Abu Ad – Darda‟ nabi Muhammad shallallahu„alaihi wa salam bersabda, “Sesungguhnya ilmu didapat dengan belajar dan
sesungguhnya hilm (kesabaran dan ketenangan …” menunjukkan bahwa ilmu harus didapat dengan sungguh – sungguh dan tekun.

3. Menjaga adab dalam bertanya
Seorang murid yang hendak bertanya pada gurunya, hendaklah memperhatikan adab. Diantaranya, maksud bertanya bukan untuk mendebat guru, bertanya memperhatikan waktu dan keadaan guru, kemudian setelah bertanya dan mendapatkan wawasan hendaknya hal tersebut diamalkan dengan perbuatan.

4. Patuh dan menuruti nasihatnya
Ketika seorang guru menasihati muridnya, maka kita menuruti nasihatnya seumpama seorang pasien yang patuh terhadap dokter. Seorang guru akan selalu memberikan nasihat yang manfaat bagi muridnya. Ketika beliau memberikan nasihat, maka kita harus bersyukur kepada Allah dan mengerjakan apa yang dinasehatkan dengan hati yang ikhlas.

5. Mendoakan guru
Rasulullah shallallahu „alaihi wa salam bersabda, “Siapa yang memperoleh kebaikan dari orang lain, hendaknya dia membalasnya …” (Hadits riwayat Bukhari). Hendaknya setiap kebaikan yang kita dapat untuk membalasnya, walaupun kebaikan sekecil apapun. Namun, rasanya terlampau sulit sekali untuk membalas kebaikan guru yang perannya sangat penting bagi kita. Salah satu cara untuk membalas kebaikan guru kita adalah dengan berdoa untuk beliau. Doa yang tidak henti yang dipanjatkan untuk kepada beliau. Termasuk mendoakan para ulama terdahulu yang punya jasa besar terhadap Islam.

Hal ini dicontohkan bahwsa Al – Harits bin Suraij berkata, aku mendengar Al – Qatthan berkata, “Aku senantiasa berdoa kepada Allah untuk imam Syafi‟I, aku khususkan doa untuknya.”

Wallahu „alam.

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *