Akhlaq Dalam Kewajiban Menuntut Ilmu

Profil Penulis

Nama Lengkap       : Thia Amelia Hardiyanti

TTL                             : Bandung, 22 Desember 1999

Alamat                        : Kp. Sindangpanon rt.03/rt.07 Kec. Banjaran Kab. Bandung

Asal Sekolah              : SMAN 1 Banjaran

Jurusan/Fakultas     : Pendidikan MIPA (Prodi Pendidikan Matematika)/FTK

 

Pada zaman yang telah modern ini terjadi beberapa revolusi mengenai pemikiran insan dalam proses menuntut ilmu. Beberapa orang berpikir bahwa menuntut ilmu dimulai ketika seseorang  usia balita hingga mereka menginjak dewasa. Atau ada pada tahap Taman Kanak-Kanak (TK) hingga tingkat Sekolah Menengah Atas (SMA) atau Madrasah Aliyah (MA). Tak banyak orang yang melanjutkan ke pendidikan lebih tinggi yakni  perguruan tinggi, karena mereka lebih memilih bekerja untuk mencari uang guna memenuhi kebutuhan hidup mereka.Padahal memiliki sebuah  pekerjaan bukan menjadikan alasan untuk berhenti mencari ilmu. Justru dengan belajarlah pekerjaan akan mengejar kita. Memang lebih baiknya kita pandai dalam mengatur waktu antara belajar dan bekerja.

Bagi kalangan kaum muslim baik itu lelaki atau perempuan, tua maupun muda tetap saja memiliki kewajiban dalam hal menuntut ilmu. Namun saja berbeda metode yang digunakan antara pembelajaran yang diberikan kepada yang lebih muda dan pembelajaran yang diberikan kepada yang lebih tua. Contohnya saja proses mendidik  seorang bayi baru lahir akan berbeda dengan proses mendidik mahasiswa. Proses mendidik bayi bisa dengan  memberikan kepadanya lantunan murrotal agar bayi belajar melalui konsep auditorial sehingga bayi akan terbiasa mendengar lantunan ayat suci al-quran ketika ia hendak dewasa. Sedangkan proses pembelajaran pada mahasiswa bukanlah demikian seperti pada pengajaran bayi yang harus selalu diberi karena bayi belum bisa apa-apa, melainkan pembelajaran mahasiswa didasari pada konsep kemandirian yang artinya mahasiswa harus aktif sendiri terhadap ilmu yang akan dia kaji karena seorang mahasiswa tentulah harus memiliki sifat yang dewasa. Dari pernyataan tersebut dapat dipahami bahwa seorang bayi tak bisa disamakan dengan mahasiswa dalam konteks pembelajaran. Namun memiiki persamaan yakni sama memilki kewajiban untuk menuntut ilmu. Dalam konteks agama pun memang telah diatur bahwa seorang muslim diwajibkan untuk menuntut ilmu, baik ilmu agama maupun ilmu dunia. Namun yang paling penting adalah mencari ilmu agama karena hukumnya fardlu ‘ain. Akan ttapi meskipun hukum ilmu dunia adalah fardlu kifayah tentu jangan pula sampai ditinggalkan. Karena ilmu dunia pun penting untuk bekal hidup di dunia. Kewajiban menuntut ilmu ini didasarkan hadits shohih Nabi Muhammad SAW yang mengatakan bahwa :

طَلَبُ الْعِلْمِ فَرِيضَةٌ عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ

yang artinya : “Menuntut ilmu itu wajib bagi setiap muslim”. Pernyataan tersebut tak harus lagi diragukan karena bermuara dari perkataan yang tercinta habibana Nabi Muhammad SAW.

Kewajiban tersebut memang tak bisa diubah dan dapat diartikan bahwa mempelajari ilmu itu wajib bagi semua muslim tanpa terkecuali. Allah mengangkat derajat seseorang yang memiliki ilmu tinggi. Tidak akan ada kesusahan bagi seorang yang memiliki ilmu. Contoh kecilnya seperti dalam aspek pekerjaan, seorang yang memiliki ilmu lebih dipertimbangkan daripada seseorang yang kurang menguasai keilmuan. Tepatnya tidak sembarangan suatu jabatan tinggi ditumpukan kepada orang yang tidak tahu apa-apa, tetapi hanya orang berilmulah yang pantas menduduki jabatan tersebut.

Maka hendaklah para pelajar memiliki adab dalam proses pencariam ilmu. Agar hasil yang didapat kelak maksimal, bermanfaat dan tak mudah lupa. Terkadang penyakit lupa sering sekali mendatangi hati pencari ilmu. Beberapa faktor yang memungkinkan hal lupa bisa terjadi diantaranya tidak mengulang kembali materi yang telah disampaikan guru. Kemungkinan lain bisa karena tidak bersungguh-sungguh dalam belajar. Cara yang bisa dilakukan agar hal itu tidak terjadi adalah dengan cara mengerjakan semua syarat belajar. Memegang 6 modal sebagai syarat bahwa dirinya akan belajar, yakni terkemuka dalam syair yang terdapat di Kitab Ta’limul Muta’allim bahwa syarat menuntut ilmu itu ada 6 yakni :

لا  لاَ  تَناَلُ  اْلعِلْمَ   إِلاَّ  بِسِتَّةٍ      سَأُنْبِيْكَ عَنْ مَجْمُوْعِهَا بِبَيَانٍ

ذَكاَءٍ وَحِرْصٍ وَاصْطِباَرٍ وَبُلْغَةٍ      وَإِرْشَادِ أُسْتَاذٍ وَطُوْلِ زَمَانٍ

            Yang pertama adalah kecerdasan. Kalimat cerdas ini sering  didengar oleh para pencari ilmu. Namun cerdas disini menurut ulama membaginya dalam  2 klasifikasi. Pertama cerdas muhibatun minallah (kecerdasan yang diberikan oleh Allah) contohnya ketika seseorang yang diberi ingatan yang kuat sehingga hafalannya akan terus ingat meski dalam jangka yang panjang. Kedua adalah cerdas yang didapat dengan usaha (cerdas muktasab) misalnya ketika seorang mengulang, mencatat materi yang disampaikan oleh gurunya maka orang tersebut dapat menjaga hafalannya dengan usaha tersebut.

Kedua adalah bersungguh-sungguh. Bersungguh-sungguh adalah kunci dari salah satu syarat kita jika akan belajar. Karena siapa pun yang bersungguh-sungguh maka ia akan mendapatkannya. Hasil yang tidak pernah menghianati proses kesungguhan dalam mencari ilmu. Maka jika ingin berhasil dalam pencapaian belajar secara maksimal haruslah disertai dengan kesungguhan        atau keseriusan, tidak berleha-leha ataupun tidak main-main dalam mencari ilmu.

Ketiga adalah kesabaran. Dalam mencari ilmu pun meski diiringi dengan kesabaran. Seringkali pelajar mengeluh akan tugas yang diberikan oleh gurunya. Padahal diluar sana masih banyak orang yang ingin belajar. Oleh karena itu, dalam tahap mencari ilmu atau belajar ini hendaklah disertai dengan kesabaran.

Selanjutnya adalah dalam bidang finansial atau biaya. Dalam dunia ini, dapat dikatakan bahwa tak pernah luput akan adanya biaya materi. Karena mencari ilmu pun harus disertai dengan biaya. Salah satu contohnya adalah dengan membayar UKT di perguruan       tinggi ataupun dana lainnya. Selanjutnya biaya untuk mempersiapkan proses pembelajaran seperti membeli alat tulis, buku tulis, buku paket, tas, sepatu, seragam dan sebagainya. Maka memang perlu ada biaya untuk        menunjang proses belajar.

Syarat yang kelima adalah perlu adanya bimbingan guru. Dalam proses belajar, bimbingan guru adalah hal yang penting. Karena jika seoarang belajar tanpa didampingi oleh seorang guru dapat menimbulkan kekeliruan jika ilmu yang ditangkapnya tidak sesuai dengan aslinya. Maka dalam proses pencarian ilmu ini haruslah diiringi dengan bantuan bimbingan guru agar tidak tersesat. Terlebih dalam mencari ilmu agama, jangan sesekali belajar tanpa adanya bimbingan dari guru.

Syarat terakhir adalah ditempuh dalam waktu yang lama. Untuk menjadikan seseorang yang memiliki intelektual tinggi tentunya  dengan cara belajar haruslah disertai dengan waktu yang lama. Karena tidak mungkin ada yang menjadi profesor hanya dalam 2 bulan    saja, tentunya haruslah dengan waktu yang lama. Al-Baihaqi berkata : “ilmu tidak mungkin didapatkan kecuali dengan kita meluangkan waktu”     dan Al-Qadhi Iyadh bertanya : “sampai kapan seseorang harus menuntut ilmu?” Beliau menjawab : “sampai ia meninggal dan ikut tertuang tempat tintanya ke liang kubur”. Itu artinya begitu panjang masa kita untuk menuntut ilmu.

Selain syarat yang dipaparkan di atas, seringkali pelajar menginginkan hal yang sama mengenai proses mereka saat pembelajaran, yakni ialah kuatnya hafalan mereka dalam belajar. Suatu hal yang menyebabkan mudahnya hafalan ialah kesungguhan, kontinuitas, mengurangi makan, dan salat di malam hari. Selain itu, membaca Al-quran pun merupakan cara untuk menguatkan hafalan. Ada yang mengatakan bahwa “Tidak ada sesuatu yang bisa lebih menguatkan hafalan seseorang, kecuali membaca al-quran dengan menyimak”. Karena membaca al-quran dengan menyimak itu lebih utama sebagimana sabda Nabi Muhammad SAW “Amalan umatku yang paling utama adalah membaca al-quran dengan menyimak tulisannya”. Hal lain yang dapat menguatkan hafalan adalah dengan membaca doa ketika hendak membawa buku. Dengan bacaan :

بسم الله و سبحا ن الله و الحمد لله ولا اله الا

لله و الله اكبر ولا حول ولا قوة الا با لله العلي العظيم

العزيز العليم عدد كل حرف كتب و

كتب ابد الابدين و دهر الداهرين ي

dan setiap selesai menulis hendak membaca :

امنت با لله الواحد الاحد وحده لا شريك له و كفرت بما سواه

 

dan untuk menguatkan hafalan lagi dengan banyak membaca shalawat kepada Nabi Muhammad SAW.

Namun terdapat beberapa faktor yang menjadikan pelajar menjadi lupa adalah banyak melakukan maksiat, banyak melakukan dosa, gila dan gelisah karena urusan dunia. Karena orang yang berakal itu jangan tergila-gila dengan urusan dunia karena akan membahayakan dan sama sekali tak ada manfaatnya. Gila dunia tak lepas dari kegelapan hati, sedangkan gila akhirat itu sebaliknya, tak lepat dari akibat hati bercahaya yang akan terasakan di kala salat. Kegilaan dunia akan menghalangi kebajikan termasuk menghalangi hadirnya ilmu dalam hati. Akan tetapi kegilaan akhirat akan membawa kepada amal kebajikan seperti mudahnya memasukkan ilmu hingga ke hati.

Oleh karena itu, diperlukan metode yang tepat untuk mendapatkan hasil yang maksimal dalam proses menuntut ilmu. Salah satunya adalah memiliki akhlaqul karimah yang bisa menunjang keberhasilan seseorang. Baik itu akhlaq kepada guru, akhlaq kepada teman sesama, akhlaq kepada maupun akhlaq kepada ilmu itu sendiri.

Cara pertama yang bisa dilakukan dalam pra-mencari ilmu ialah meluruskan niat yakni dengan niat karena Allah SWT. Karena ilmu apapun itu, baik dalam aspek ilmu agama ataupun ilmu dunia semuanya hanyalah milik Allah SWT. Hendaknya kita sebagai pencari ilmu meminta ilmu yang bermanfaat  kepada Allah SWT. Yang kedua berniat untuk mencari kebahagiaan dunia dan akhirat. Karena seseorang yang memiliki ilmu berpeluang besar untuk mendapatkan kebahagian baik itu kenikmatan di dunia maupun kenikmatan di akhirat. Seseorang yang tinggi ilmunya akan mudah dalam menjalankan kehidupannya di dunia dan mudah pula dalam mencari bekal ke akhirat.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *