Pondok Pesantren Salafiyah AR-RAAID – SMP – SMA – Mahasantri

“Manajemen Waktu antara Mengaji, Kuliah, Dan Berkhidmah serta Penyusunan Jurnal Ilmiah Yang Baik di Pondok Pesantren Salafiyah Ar-Raaid”

Penulis: Nabila N.W, Wafa aliya, Deftarani, Azizah Izzah J, Asty Syaidatul Ma’wa, Annisa Nurdianti H, Afdila, Septi Wisdianti, M. Irfan Hakim, Hilmiawan, M. Farhan, Reyhan Nanda Al Farizi.

Editor: Pitriani

Pendahuluan

Kehidupan mahasantri yang menjalankan dua peran sekaligus sebagai santri dan mahasiswa, tentu dihadapkan pada berbagai tantangan. Berangkat dari fenomena yang terjadi di lapangan, banyak santri mengalami overthinking dalam menjalani kehidupan sehari-hari akibat tekanan yang datang secara bersamaan, seperti tuntutan perkuliahan, aktivitas di pondok pesantren, serta kecemasan terhadap masa depan yang belum pasti. Kondisi ini memicu kegelisahan, prasangka negatif, dan hilangnya ketenangan batin, yang pada akhirnya berdampak pada kesehatan mental dan spiritual. Kondisi tekanan yang terus-menerus tersebut berpotensi memunculkan penyakit hati, seperti kegelisahan berlebihan, putus asa, dan hilangnya ketenangan batin, kurang percaya diri, takut tertinggal dalam akademik, hingga kesulitan membagi waktu antara kewajiban pesantren dan perkuliahan. Namun demikian, semua tantangan tersebut pada hakikatnya sangat dipengaruhi oleh tingkat kedalaman spiritual seseorang. Semakin kuat hubungan seorang mahasantri dengan Allah SWT, maka semakin kuat pula ia dalam menghadapi tekanan dan mengelola kehidupannya dengan baik. Oleh karena itu, diperlukan upaya menata hati melalui sikap husnudzon agar santri mampu menghadapi setiap keadaan dengan lebih tenang dan optimis.

Sebagai mahasantri yang menempuh pendidikan di Pondok Pesantren Assalafy Ar-Raaid dan juga berkuliah di UIN Sunan Gunung Djati Bandung, kehidupan sehari-hari menuntut adanya manajemen waktu yang terstruktur. Dalam kegiatan workshop mengenai integrasi akhlak dan akademik di pesantren mahasiswa Ponpes Salafi Ar-Raaid dilaksanakan pertama kalinya pada hari Rabu, 15 April 2026 tepatnya setelah shalat Isya, bertempat di Majelis Al-Qamar lantai 2 dengan rangkaian kegiatan yang terstruktur dan sistematis. Kegiatan ini diawali dengan melantunkan tawasul sebagai salah satu washilah atau jembatan untuk memohon kelancaran serta keberkahan atas seluruh rangkaian acara. ini merupakan rutinitas yang wajib di dawamkan oleh santri Ar-raaid untuk mengawali suatu kegiatan sebagai bentuk pengharapan bimbingn, penjagaam dan menyambungkan sanad keilmuan wasilah berkah Guru-guru wali Allah syafaat nabi Muhammad. Kegiatan tersebut termasuk pelaksanaan workshop perdana dengan Sesi pertama membahas tentang management waktu. Pada sesi ini sangat memotivasi terutama saat menjelaskan materi tentang berkah khidmah yang berdampak pada akademisi kampus.

Workshop ini merupakan “Langkah Awal Santri Berdaya: Workshop Manajemen Waktu antara Mengaji, Kuliah, dan Berkhidmah serta Penyusunan Jurnal Ilmiah yang Baik” yang diselenggarakan di Pondok Pesantren Assalafy Ar-Ra’id merupakan kegiatan perdana yang diikuti oleh para santri dengan penuh antusias. Kegiatan yang menghadirkan pemateri yang merupakan santri Ar-Raaid sendiri yang baru saja menyelesaikan studi S2 yakni Ustadzah Pitriani, S.Ag., M.Sos. adapun judul jurnal sripsi S1 “Efektifitas Istighosah Terhadap Kesehatan Mental Santri Pada Masa Covid 19, Studi: Ponpes Salafi Ar-Raaid (2022)” sedangkan S2 dengan judul thesis “Pengaruh Afirmasi Tauhid Dan Konseling Sufistik Terhadap Kecerdasan Spiritual Santri: Studi Pondok Pesantren As Salafi Ar-Raaid (2025) “. Beliau sering disapa dengan panggilan Teh Aka. Beliau berasal dari Kalimantan Utara, tepatnya dari Pulau Sebatik, sebuah pulau terpencil yang berada di wilayah perbatasan Indonesia dan Malaysia. Kehadirannya memberikan inspirasi tersendiri bagi para santri, karena mampu membuktikan bahwa keterbatasan tidak menjadi penghalang untuk terus berkembang. Beliau juga membawa mimpi besar untuk dapat mengenalkan daerah asalnya kepada khalayak luas, sebagai bentuk kontribusi dan kecintaan terhadap tanah kelahirannya.Suasana workshop berlangsung tertib dan kondusif, sehingga para peserta dapat mengikuti kegiatan dengan fokus.

Menjalani kehidupan mahasiswa yang serba serbi tugas dibarengi dengan hafalan di pondok pesantren kerap kali menjadikan sosok yang lebih memikirkan hal yang tidak harus dipikirkan, yang sebenarnya harus di lakukan tidak lain tidak bukan yakni hanya “kerjakan” tidak ada yang perlu difikirkan secara berlebihan. Sehingga sering merasa kewalahan membagi waktu, apalagi ketika semua kegiatan datang hampir bersamaan. Kegiatan ini bertujuan untuk mendorong para santri agar mampu meningkatkan kualitas diri, baik dari segi pola pikir, sikap, maupun keterampilan.

Pembahasan

Pondok Pesantren salafiyah Ar-raaid adalah sebuah lembaga pendidikan agama yang tumbuh dan berkembang di atas nilai-nilai budaya dan agama. Nilai budaya dan agama tersebut terwujud melalui sikap dan perilaku para santri dalam kehidupan sehari-hari. Dari nilai-nilai yang berkembang tersebut para santri diharapkan mampu menyusun dan membenah karakter diri dengan berdasarkan pada akhlak dan akademik. Karakter yang telah disusun tersebut merupakan falsafah hidup seluruh santri Ar-raaid dalam beragama, berbangsa, dan bernegara. Nilai-nilai luhur budaya tersebut harus terus dijaga dan diajarkan kepada generasi muda agar tidak luntur oleh perkembangan zaman dan pengaruh budaya asing yang masuk, dengan memegang erat prinsip ajaran yang kuat Ahlu Sunnah wal jamaah. Salah satu ajarannya yang di tekankan oleh pimpinan ponpes salafiya Ar-Araaid Pangersa Ibu Nyai Euis Susilawati yakni “selalu merasa orang lain lebih baik, mulia dari diri kita sendiri”. Ini lah ajaran yang membntuk sikap ketawadhuan , selalu menghargai orang lain tanpa memandang siapa pun orangnya. Pendidikan karakter tidak hanya dilaksanakan dengan teori, namun perlu dilaksanakan melalui praktik pembiasaan secara rutin agar karakter yang diajarkan benar-benar tertanam dalam diri para santri.

Membahas tentang “Menajemen waktu antara mengaji, kuliah dan berkhidmat” tidak lepas dari washilah dan barokah guru-guru. Dalam tradisi pesantren, hubungan antara murid dan guru bukan sekadar hubungan akademik, tetapi juga hubungan spiritual. Ilmu tidak hanya dipahami sebagai pengetahuan, melainkan sesuatu yang mengandung nilai keberkahan (barokah) yang mengalir melalui perantara (wasilah) guru.

Salah satu cara yang dapat dilakukan dalam me-manage waktu adalah dengan menyempatkan diri memanfaatkan waktu-waktu sempit yang ada untuk mengerjakan tugas kuliah, seperti di sela-sela waktu istirahat, sebelum kelas dimulai, atau bahkan disaat ada jam kosong atau pun ada jeda waktu antar mata kuliah. karna waktu itu adalah emas, maka manfaatkanlah waktu sebaik mungkin untuk menyelesaikan berbagai tugas. Dengan demikian, tugas-tugas tidak menumpuk dan dapat diselesaikan sedikit demi sedikit tanpa mengganggu waktu mengaji dan berkhidmah.

Tentunya dengan adanya ikhlas dan keyakinan yang kuat nantinya akan menjadi pondasi bagaimana menyikapi kehidupan. Barokah juga menjadi salah satu faktor yang pemateri workshop kali ini rasakan dalam menjalani studinya di UIN SGD Bdg S1 dan S2 dan juga sebagai mahasantri Ponpes Arraid, barokah itu didapatkan sesuai dengan kekuatan kepercayaan kita terhadap barokah tersebut, pemateri juga menyarankan para audience untuk men challage diri para audience supaya merasakan sendiri apakah barokah itu benar adanya. mengatur waktu itu bukan hanya soal membuat jadwal, tapi juga tentang konsistensi dalam menjalaninya, pentingnya menentukan prioritas. Tidak semua hal harus dilakukan sekaligus, tapi bisa diatur sesuai kebutuhan dan urgensinya. Menjadi minoritas di tengah-tengah mayoritas adalah ajaran yang di terapkan oleh santri ar-raaid agar menjadi manusia yang unik, istimewah yang menghasilkan karakter yang bertanggung jawab, focus, konsisten dan integrase terhadap diri agar mencapai tujuan dalam hidup dan hal ini merupakan ajaran para Guru-Guru.

Pentingnya manajemen waktu dalam menjalankan peran sebagai santri, mahasiswa, sekaligus individu yang berkhidmah. Sehingga pemateri dapat di jadikan roll model untuk semua, dikenal sebagai sosok yang mampu menyeimbangkan ketiga peran tersebut dengan baik. Berpestrasi secara akademik tanpa mengabaikan kewajibanya sebagai seorang santri. Dalam pengalamannya menjadi mahasiswa dan juga santri mendapatkan apresiasi terhadap teman sekelas bahwa di tengah-tengah padatnya kegiatan pondok, tapi mampu menyelesaikan tugas dengan tepat waktu dan disiplin. Hal ini di sampaikan bahwa keberhasilan yang diraih bukan semata-mata karena kehebatan pribadi, melainkan berkat khidmah, doa, serta ridha kepada guru. Menurutnya berdasarkan ajaran nasehat Guru bahwa waktu luang harus di manfaatkan sebaik-baiknya untuk ladang kemanfaatn lainnya sehingga mendaptakan keberkahan. Sangatlah relevan dalam kehidupan santri dan mahasiswa justru waktu yang padat adalah cara untuk kita bisa memanajemen kegiatan kita sehingga terarah dan menargetkan tugas-tugas dengan penuh tanggung jawab, justru waktu yang luang lah yang kadang mencelakakan kita untuk selalu menunda-nunda suatu pekerjaan dan menjadikan kita malas melakukan, semua itu tergerak oleh niat dan keyakinan kita kepada sang pengendali kehidupan Allah Subahana wataala.

Nilai penting dalam kehidupan, bahwa ketika seseorang berusaha membantu dan memudahkan urusan orang lain, maka Allah SWT akan memudahkan urusannya. Prinsip ini menjadi pegangan dalam menjalani aktivitas sehari-hari, baik dalam dunia akademik maupun dalam kehidupan sosial dan spiritual. para pendengar menjadi lebih memahami pentingnya memperbaiki diri secara terus-menerus, baik dalam aspek ibadah maupun hubungan sosial. Kegiatan ini juga memberikan dorongan untuk lebih disiplin dan memiliki arah tujuan yang jelas. Program ini akan menjadi program rutin yang di lakukan oleh ponpes salafiya ar-raaid sebagai bentuk upgrade diri, sharing secition untuk membangun semangat dan memberikan wadah para Guest star yang sesuai dengan soft skill masing-masing. Sehingga menjadi ladang syiar, kemanfaatan dan keberkahan bagi kita semua.

Kesimpulan

Keberhasilan dalam menjalani kehidupan di pondok pesantren sebagai mahasantri bukan hanya ditentukan oleh banyaknya aktivitas, tetapi juga oleh kemampuan dalam mengatur waktu, mendahulukan kewajiban, serta menjaga adab kepada guru agar mendapatkan keberkahan ilmu dalam hidup. integrasi nilai akhlak dalam kehidupan mahasantri tidak dapat dipisahkan dari kemampuan dalam mengelola waktu secara bijak. Keseimbangan antara akademik, spiritual, dan khidmah hanya dapat dicapai apabila dilandasi oleh niat yang lurus, kedisiplinan, serta kedekatan kepada Allah SWT. Oleh karena itu, manajemen waktu bukan sekadar keterampilan teknis, melainkan bagian dari implementasi akhlak dalam kehidupan sehari-hari yang akan membentuk pribadi mahasantri yang unggul, tangguh, dan berintegritas.

Kegiatan diakhiri dengan penyusunan jurnal harian sebagai bentuk latihan. Kegiatan ini diharapkan dapat membantu peserta dalam merefleksikan materi yang telah diperoleh, sehingga ilmu tersebut dapat diamalkan dalam kehidupan sehari-hari serta memberikan manfaat yang berkelanjutan. Secara keseluruhan, kegiatan workshop perdana ini berjalan dengan lancar dan penuh khidmat, serta diharapkan dapat menjadi langkah awal dalam membangun karakter mahasiswa yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga berakhlak mulia.

Pembahasan di akhiri dengan menjawab salah satu pertanyaan perihal kemajuan teknologi yang ada untuk membantu mahasiswa memngerjakan tugas, baik itu jurnal dan lain-lain. Tentunya AI juga tidak seratus persen menjadi acuan kita untuk mengerjakan tugas terutama pada pembahasan kali ini yakni “jurnal”, dengan adanya AI seperti CHAT GPT dan juga GEMINI itu dapat kita gunakan untuk memetakan apa saja yang kita akan bahas sesuai judul yang diinginkan. berarti ide dari seseorang tetaplah berharga dan tidak semua yang bisa dilakukan manusia dapat dilakukan oleh AI.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top