Pondok Pesantren Salafiyah AR-RAAID – SMP – SMA – Mahasantri

“Integrasi Akhlaq sebagai Pondasi Public Speaking di Pondok Pesantren As-Salafi Ar-Raaid”

Penulis:
Nur Azizah, Wafa Aliya Rizqi
Editor :
Via Putrimawati Muttaqin

Pendahuluan

Kemampuan berbicara di depan umum (public speaking) merupakan keterampilan penting dalam kehidupan manusia, baik dalam konteks personal, sosial, maupun profesional. Pada dasarnya, komunikasi menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan manusia karena hampir seluruh aktivitas manusia melibatkan proses interaksi dan penyampaian pesan (Bahrudin, 2014). Namun demikian, perkembangan public speaking di era modern cenderung lebih menitikberatkan pada aspek teknis seperti kemampuan retorika dan penyampaian pesan, sementara dimensi etika dalam komunikasi sering kali kurang diperhatikan.

Dalam perspektif Islam, komunikasi tidak hanya dipahami sebagai proses penyampaian informasi, tetapi juga sebagai bagian dari pembentukan akhlak dan karakter. Al-Qur’an memberikan pedoman komunikasi melalui konsep qaulan, seperti qaulan sadidan (perkataan yang benar), qaulan layyinan (lemah lembut), dan qaulan ma’rufa (perkataan yang baik), (Afifi & Kurniawan, 2021) yang menunjukkan bahwa komunikasi harus dilandasi nilai kebenaran, kesantunan, dan tanggung jawab (Mulyono & Azhar, 2024). Hal ini menegaskan bahwa kualitas komunikasi tidak hanya ditentukan oleh keefektifan penyampaian pesan, tetapi juga oleh nilai moral yang melandasinya.

Lebih lanjut, konsep qaulan sadidan dalam komunikasi Islam menekankan pentingnya kejujuran, keadilan, dan tanggung jawab dalam berbicara, yang berperan dalam membangun hubungan sosial yang sehat dan saling percaya (Mulyono & Azhar, 2024). Prinsip ini menjadi sangat relevan di tengah fenomena komunikasi modern yang sering kali diwarnai oleh manipulasi informasi dan krisis etika.

Pondok Pesantren As-Salafi Ar-Raaid, kita tidak hanya belajar bagaimana memahami kitab kuning, tetapi juga bagaimana menyuarakan isinya kepada dunia. Namun, pernahkah kita bertanya: Apa yang membedakan seorang pembicara publik biasa dengan seorang santri yang berbicara di depan publik? Jawabannya bukan terletak pada seberapa lantang suaranya, melainkan pada Akhlak dan Niat yang melandasinya. integrasi antara akhlak dan public speaking menjadi suatu kebutuhan yang penting, khususnya dalam konteks dakwah dan pembinaan karakter.Tulisan ini ingin mengajak kita semua mendalami bagaimana cara menyatukan antara keahlian berbicara (public speaking) dengan keindahan akhlak. Pembahasan ini merujuk pada materi berharga yang disampaikan oleh Ustadzah Via Muttaqin, S.Pd. yang merupakan salah satu santri Pondok pesantren salafi Ar-raaid. Dalam workshop bertajuk ‘Mengintegrasikan Akhlak dengan Public Speaking’ di Pondok Pesantren Salafi Ar-Raaid, Rabu malam (22 April 2026). kita berharap dapat memahami bahwa menjadi seorang pembicara bukan hanya soal jago teknik bicara di depan umum, tapi juga soal menjaga integritas dan moral. Semoga ilmu ini bisa kita amalkan sehari-hari, sehingga lahir para santri yang tidak hanya cerdas berkomunikasi, tapi juga memiliki karakter yang mulia.

Pembahasan

Akhlak dalam perspektif Islam memiliki kedudukan yang fundamental sebagai landasan perilaku manusia, termasuk dalam aktivitas komunikasi publik. Imam Al-Ghazali mendefinisikan akhlak sebagai suatu kondisi atau sifat yang tertanam kuat dalam jiwa, yang darinya lahir berbagai perbuatan dengan mudah tanpa memerlukan pemikiran dan pertimbangan yang panjang (Al-Ghazali, 2011). Definisi ini menunjukkan bahwa akhlak bukan sekadar tindakan yang tampak secara lahiriah, melainkan merupakan refleksi dari karakter batin yang telah terinternalisasi. Dalam konteks public speaking, hal ini berarti bahwa kualitas komunikasi seseorang tidak hanya ditentukan oleh kemampuan retorika atau teknik penyampaian, tetapi juga oleh kondisi batin yang melandasi setiap ucapan yang disampaikan. Dengan kata lain, seorang pembicara yang memiliki akhlak yang baik akan secara spontan menampilkan sikap jujur, santun, dan penuh tanggung jawab dalam berbicara, sehingga pesan yang disampaikan tidak hanya efektif, tetapi juga bernilai etis dan spiritual.

Dalam pemaparan materi pada kegiatan workshop, Ustadzah Via menegaskan bahwa public speaking tidak dapat direduksi sebagai aktivitas menyampaikan pesan secara verbal, melainkan merupakan proses bagaimana pesan tersebut dapat bermakna dan benar-benar sampai kepada audiens. Keberhasilan komunikasi, menurut beliau, tidak semata diukur dari kejelasan artikulasi atau struktur penyampaian, tetapi dari sejauh mana pesan tersebut mampu menyentuh sisi emosional dan kesadaran audiens. Dalam hal ini, beliau menekankan pentingnya aspek batiniyah, yaitu bahwa pesan yang disampaikan dari hati akan lebih mudah diterima dan dirasakan oleh pendengar. Pandangan ini menunjukkan bahwa dimensi afektif dalam komunikasi memiliki peran yang signifikan dalam menentukan efektivitas public speaking yang dapat berdampak bagi audiens.

Kemampuan berbicara di depan publik bagi seorang santri bukan sekadar ketangkasan mengolah kata atau penguasaan teknik vocal variety dan body language semata, melainkan sebuah manifestasi dari kondisi batin yang telah terinternalisasi melalui proses tazkiyatun nafs atau pembersihan jiwa. Setiap kata yang terucap oleh santri Ar-Raaid saat mempresentasikan gagasan di kampus maupun saat berdakwah di masyarakat, sejatinya merupakan refleksi dari karakter batin yang jujur (shidqu al-hadits) dan rendah hati (tawadhu’), yang lahir secara spontan tanpa adanya motivasi egoistik untuk mencari pujian atau popularitas. Sebaliknya, ia harus menyadari bahwa kemampuan berbicara yang dimilikinya merupakan anugerah dari Allah Swt., sehingga memunculkan sikap rendah hati dalam setiap penyampaian. Kesadaran ini akan membentuk integritas moral seorang pembicara, dimana apa yang disampaikan tidak hanya benar secara isi, tetapi juga bersih dari motivasi yang bersifat egoistik.

Terlebih lagi, aspek niat menjadi poin krusial yang ditekankan dalam integrasi akhlak dengan public speaking. Ustadzah Via mengingatkan bahwa seorang pembicara hendaknya tidak menjadikan pujian atau pengakuan dari orang lain sebagai tujuan utama dalam berbicara di depan umum. Orientasi yang keliru semacam ini justru berpotensi mereduksi nilai dari pesan yang disampaikan. Oleh karena itu, seorang public speaker dituntut untuk meluruskan niatnya, yakni menjadikan aktivitas berbicara sebagai bentuk ibadah dan kontribusi kebaikan yang dilandasi oleh keikhlasan kepada Allah Swt. Dengan demikian, public speaking tidak hanya menjadi sarana komunikasi, tetapi juga menjadi manifestasi dari akhlak yang mulia dalam kehidupan sosial.

Public speaking yang baik bukan hanya yang unggul secara teknis, melainkan yang terintegrasi dengan nilai-nilai akhlak. Ustadzah Via menjelaskan bahwa kehidupan santri yang sehari-harinya ditempa dengan pembelajaran adab dan akhlak seharusnya tidak berhenti pada ruang pesantren semata, tetapi harus diimplementasikan dalam kehidupan sosial yang lebih luas, termasuk dalam dunia profesional. Hal ini menjadi sangat relevan terutama pada profesi yang berkaitan dengan public speaking seperti master of ceremony (MC), moderator, pembawa acara, maupun figur publik yang memiliki pengaruh besar terhadap audiens. Dengan demikian, akhlak tidak hanya menjadi identitas personal, tetapi juga menjadi fondasi profesionalitas dalam berkomunikasi di ruang publik.

Kiyai Hasyim Asy’ari radhiallahu anhu dalam kitab Adabul ‘Alim wal Muta‘allim menegaskan bahwa seorang penuntut ilmu hendaknya menghiasi dirinya dengan sifat hilm (santun), waqar (tenang dan berwibawa), serta tawadhu’ (rendah hati) (Asy’ari, 2014). Nilai-nilai ini kemudian diaktualisasikan dalam praktik public speaking sebagai bentuk integrasi antara ilmu dan akhlak. Dalam konteks komunikasi publik, hilm tercermin dalam cara berbicara yang santun dan tidak menyakiti audiens, waqar tampak pada pembawaan yang tenang, terstruktur, dan meyakinkan, sedangkan tawadhu’ terlihat dari sikap tidak sombong serta kesadaran bahwa kemampuan berbicara merupakan amanah dari Allah Swt.

Implementasi konkret dari integrasi tersebut dapat dilihat dalam beberapa aspek. Pertama, pada tahap pembukaan, seorang pembicara perlu memperhatikan first impression melalui ekspresi wajah yang ramah, penuh semangat, serta diawali dengan salam (basyasyah) sebagai bentuk penghormatan kepada audiens. Kedua, dari aspek nonverbal, postur tubuh yang tegak mencerminkan kepercayaan diri dan kewibawaan, namun tetap diimbangi dengan sikap rendah hati. Ketiga, dalam aspek verbal, seorang pembicara dituntut untuk menjunjung tinggi kejujuran (shidqu al- hadits), yakni menyampaikan informasi secara apa adanya tanpa melebih-lebihkan demi memperoleh apresiasi semata. Keempat, sikap amanah juga menjadi bagian penting, misalnya dengan menjaga durasi berbicara sesuai waktu yang telah ditentukan sebagai bentuk tanggung jawab profesional. Kelima, seluruh proses tersebut harus dilandasi dengan keikhlasan, yaitu menjadikan aktivitas berbicara sebagai sarana memberikan manfaat, bukan sekadar mencari popularitas atau pengakuan.

Sebagai penegasan, Ustadzah Via merumuskan konsep integratif ini dalam ungkapan “speak like a leader, act like a santri”, yang mengandung makna bahwa seorang pembicara harus mampu tampil percaya diri, tegas, dan berpengaruh layaknya seorang pemimpin, namun tetap berperilaku dengan akhlak seorang santri yang menjunjung tinggi adab, kesederhanaan, dan keikhlasan. Konsep ini menunjukkan bahwa idealitas public speaking dalam perspektif Islam tidak hanya berorientasi pada performa, tetapi juga pada nilai dan integritas moral yang menyertainya.

Mengingat bahwa Public speaking dalam perspektif Islam tidak hanya dipahami sebagai keterampilan komunikasi verbal, tetapi juga sebagai manifestasi integrasi antara kemampuan teknis dan kualitas akhlak. Idealitas public speaking tidak cukup dinilai dari aspek performatif (lahiriyah), melainkan juga dari dimensi batiniyah yang mencerminkan nilai-nilai moral dan spiritual. Dengan demikian, seorang pembicara tidak hanya dituntut mampu menyampaikan pesan secara efektif, tetapi juga menghadirkan keteladanan akhlak dalam proses komunikasi tersebut. Secara teknis, keberhasilan public speaking ditentukan oleh elemen seperti eye contact, vocal variety, dan body language (Rakhmat, 2012). Eye contact berfungsi membangun koneksi emosional dengan audiens, vocal variety menjaga perhatian melalui variasi intonasi, tempo, dan volume, sedangkan body language memperkuat pesan secara nonverbal. Namun, penguasaan teknis ini harus diimbangi dengan nilai akhlak seperti kelembutan (al-lathafah), kerendahan hati (at-tawadhu’), dan sikap adil (al-inshaf), sebagaimana tercermin dalam QS. An- Nahl ayat 125 tentang pentingnya berdakwah dengan hikmah dan nasihat yang baik (Nurdin, 2013).

Dalam praktiknya, public speaking Islami juga tercermin dalam struktur penyampaian yang khas, dimulai dengan hamdalah dan shalawat sebagai pembukaan yang bernilai spiritual. Pada tahap interaksi, khususnya sesi tanya jawab, pembicara dituntut bersikap sabar, jujur, dan terbuka, serta mengakui keterbatasan pengetahuan sebagai bentuk integritas. Penutup dilakukan dengan merangkum poin utama serta diperkuat doa atau ayat Al-Qur’an agar pesan membekas. Seluruh proses ini berlandaskan orientasi lillahi ta’ala, di mana aktivitas berbicara diposisikan sebagai sarana dakwah, bukan untuk kepentingan popularitas atau materi. Penyakit hati seperti riya’ dan sum’ah menjadi ancaman yang dapat merusak keikhlasan, sehingga pesan kehilangan kekuatan spiritualnya.

Konsep keikhlasan ini diperkuat oleh pemikiran Abu Hamid al-Ghazali dalam Ihya’ Ulumiddin yang menegaskan bahwa keikhlasan adalah ruh dari setiap amal, serta hikmah Ibnu Atha’illah as-Sakandari dalam kitab Al-Hikam yang mengajarkan pentingnya “menanamkan diri dalam kerendahan hati” agar menghasilkan dampak yang sempurna. Dalam konteks Indonesia, nilai ini juga tercermin dalam praktik dakwah ulama Nahdlatul Ulama seperti Hasyim Asy’ari yang berdakwah tanpa orientasi materi (Asy’ari, 2014). Secara normatif (Asy’ari, 2014), prinsip ini didukung oleh hadis yang bahwasanya “setiap amal tergantung niatnya” (HR. Bukhari-Muslim), serta ayat Al-Qur’an seperti QS. Al-Insyirah ayat 5–6 dan QS. Al-An’am ayat 90 yang menegaskan bahwa dakwah tidak dilakukan dengan mengharapkan imbalan.

Implementasi konsep tersebut terlihat dalam praktik lapangan yang dipandu oleh Ustadzah Via Muttaqin.,S.Pd. kepada santri Pondok Pesantren Ar-Raaid di mana dilakukan: 1) simulasi public speaking tentang adab terhadap guru yang menegaskan bahwa ilmu tanpa adab tidak memiliki makna; selain itu, 2) dilakukan praktik menjadi MC dengan penekanan bahwa peran tersebut bukan untuk mencari tepuk tangan, melainkan menjalankan amanah untuk memandu keberlangsungan acara sampai dengan sukses dengan balutan keikhlasan; selanjutnya, Ustadzah Via juga memberi 3) praktik teknis mengenai memandu prosesi sungkem sebagai nilai sosiokultur terhadap orang tua (Koentjaraningrat, 1984), yang biasanya disampaikan saat setelah akad pernikahan. Dalam praktiknya, ia menegaskan konsep ilahiyah, dimana prosesi sungkem sebagai wasilah taubat kepada Alah melalui permintaan maaf kepada kedua orang tua. Segenap teknik vokal tetap digunakan, tetapi dilandasi ketulusan sehingga respon audiens muncul secara alami.

Lebih detailnya, bahkan Ustadzah Via memberikan gambaran detail dalam mengucapkan salam, tidak cukup secara lisan, tetapi harus disertai kesadaran spiritual berupa doa dan permohonan ampun bagi sesama muslim-muslimat. Pada akhirnya, keikhlasan menuntut pengorbanan waktu, tenaga, dan pikiran, namun menghasilkan dampak jangka panjang berupa kebermanfaatan yang berkelanjutan dan kepercayaan publik. Teladan dapat dilihat dari Abu Bakar as-Siddiq dan Abdullah bin Rawahah yang tetap istiqamah dalam dakwah tanpa orientasi materi. Dengan demikian, public speaking yang ideal merupakan perpaduan antara kompetensi teknis dan integritas moral-spiritual, dimana efektivitas komunikasi tidak hanya ditentukan oleh cara penyampaian, tetapi juga oleh kualitas niat dan akhlak pembicara.

Simpulan

Public speaking merupakan keterampilan yang tidak asing dalam kehidupan masyarakat modern dan menjadi kebutuhan yang tidak dapat dihindari, termasuk bagi kalangan santri. Namun demikian, perbedaan mendasar terletak pada bagaimana keterampilan tersebut diintegrasikan dengan nilai-nilai akhlak. Di tengah arus globalisasi, komunikasi publik tidak hanya menuntut kemampuan teknis seperti penguasaan materi dan retorika, tetapi juga menuntut adanya landasan moral yang kuat. Oleh karena itu, public speaking tidak cukup dipahami sebagai aktivitas berbicara di depan umum, melainkan sebagai proses penyampaian pesan yang menggabungkan aspek lahiriah dan batiniah, yakni antara kemampuan berbicara dengan niat dan sikap yang melandasinya.

Dengan memegang teguh prinsip “Speak Like a Leader, Act Like a Santri”, para santri-mahasiswa Ar-Raaid didorong untuk tampil percaya diri dan berpengaruh di ruang publik profesional tanpa melepaskan identitas kesantriannya yang menjunjung tinggi adab, keikhlasan, dan orientasi lillahi ta’ala. Dengan demikian, aktivitas berbicara tidak hanya berhenti pada pertukaran informasi secara verbal, tetapi bertransformasi menjadi sebuah ibadah dan kontribusi kebaikan yang berkelanjutan, di mana keberhasilan komunikasi tidak lagi diukur dari riuh tepuk tangan, melainkan dari sejauh mana pesan tersebut mampu menggerakkan hati dan membawa kemaslahatan bagi umat.

DAFTAR ISI

Afifi, S., & Kurniawan, I. N. (2021). Ragam komunikasi verbal dalam Al-Qur’an. Jurnal Komunikasi, 13(2), 145–160.

Al-Ghazali, A. H. (2011). Ihya’ Ulumiddin: Kitab an-Niyyah wa al-Ikhlas wa ash- Shidq. Beirut: Dar al-Minhaj.

Al-Iskandari, I. A. (t.th.). Al-Hikam al-Atha’iyyah. Beirut: Dar al-Ma’arif.

Asy-Syafi’i, M. I. (t.th.). Al-Umm. Beirut: Dar al-Ma’rifah.

Asy’ari, M. H. (2014). Adab al-‘Alim wa al-Muta’allim fima Yahtaju ilaihi al- Muta’allim fi Ahwal Ta’allumihi wa ma Yatawaqqafu ‘alaihi al-Mu’allim fi Maqamat Ta’limihi. Jombang: Maktabah Turats al-Islami.

Az-Zarnuji, B. I. (2010). Ta’lim al-Muta’allim Thariq at-Ta’allum. Surabaya: Al- Hidayah.

Bahrudin. (2014). Prinsip-prinsip komunikasi dalam Al-Qur’an. Jurnal Dakwah dan Komunikasi, 8(1), 1–15.

Bisri, M. (2005). Saleh Ritual Saleh Sosial. Jakarta: Kompas.

Koentjaraningrat. (1984). Kebudayaan Jawa. Jakarta: Gramedia.

Mulyana, D. (2017). Ilmu Komunikasi: Suatu Pengantar. Bandung: Remaja Rosdakarya.

Mulyono, M., & Azhar, A. (2024). Analisis komunikasi: Efektivitas qaulan sadidan terhadap dinamika interpersonal. Jurnal Ilmu Manajemen dan Komunikasi, 5(1), 50–65.

Nurdin, A. (2013). Retorika dakwah dalam Al-Qur’an: Analisis terhadap ayat-ayat qaulan. Jurnal Komunika, 7(1), 1–15.

Rakhmat, J. (2012). Retorika Modern: Pendekatan Praktis. Bandung: Remaja Rosdakarya.

Saifuddin, L. H. (2019). Moderasi Beragama. Jakarta: Kementerian Agama RI.

Jurnal Harian

Dokumentasi Workshop Upgrade Diri Santri - Mengintegrasikan Akhlaq dengan Public Speaking

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top