Oleh: Pangersa Ibu Nyai Euis Susilawati, S.S., M.Pd.I.
Penulis: Muhammad Naufal Makarim, Mufid Setiawan, M. Siddiq Abdilah, Mohammad Irfan Hakiem, Muhammad Hafizh Izzatullah, Moch. Rakha Hidayatulloh
Editor: Pitriani
Dalam kehidupan tentu pasti banyak tekanan yang berasal dari kesulitan masalah hidup yang belum bisa terselesaikan, sebagai seorang santri tentu memiliki tanggung jawab ganda yaitu sebagai santri yang harus membereskan hafalan dan kewajiban ngaji serta mahasiswa yang harus menyelesaikan tugas serta skripsi. Kedua hal tersebut mungkin terdengar berat, tetapi ketika bisa terlewati maka tentu seorang santri akan sangat beruntung karena memiliki ilmu yang tidak hanya hebat dalam intelektual dan spiritual.
Menjadi seorang mahasantri dengan sistem dualisme sebagai mahasiswa sekaligus santri merupakan tantangan yang kompleks, khususnya bagi santri Ar-Raaid yang sedang berada di semester akhir. Pada fase ini, kita dihadapkan pada berbagai tekanan yang datang silih berganti, seperti tuntutan penyelesaian skripsi, ekspektasi keluarga terkait kelulusan dan pekerjaan, serta tanggung jawab di lingkungan pesantren. Kondisi ini menuntut kemampuan adaptasi yang tidak hanya bersifat akademik, tetapi juga psikologis dan spiritual.
Permasalahan seorang santri yang berkuliah tentu tidak jauh dari tugas kuliah, hafalan, serta skripsi. Tetapi mengapa banyak santri yang masih stuck dengan ngajinya yang kurang dan juga kuliahnya keteteran? Banyak faktor yang menyebabkan seorang santri belum memaksimalkan waktunya untuk mengerjakan pengajian dan perkuliahan, faktor yang paling umum dirasakan oleh seorang santri adalah kemalasan, kemudian tergoda dengan lawan jenis serta ekonomi. Maka dari sini seorang santri perlu membentuk kesehatan mental yang tentu hasil dari menyatukan telinga, mata serta hati yang fokus terhadap masalah yang dihadapi. Kebanyakan seseorang yang menjalankan perkuliahan itu hanya memikirkan administratif / memikirkan nilai yang sempurna diperkuliahan tanpa memikirkan bahwa hal tersebut adalah untuk upgrade diri dari yang tidak tahu menjadi tahu.
Dalam konteks tersebut, spiritualitas memiliki peran yang sangat signifikan sebagai penopang kesehatan mental. Spiritualitas tidak hanya berkaitan dengan ritual keagamaan, tetapi juga mencakup cara individu memaknai kehidupan, menghadapi ujian, serta membangun hubungan yang transendental dengan Tuhan. Sebagaimana disampaikan oleh Pangersa Ibu Nyai Euis Susilawati, S.S., M.Pd.I. dalam workshop “Peran Spiritualitas dalam Membantu Kesehatan Mental di Tengah Tekanan Tugas Kuliah dan Skripsi”, penguatan spiritual menjadi kunci dalam menjaga kestabilan mental di tengah tekanan hidup.
Proses terbentuknya mental yang sehat dilalui dari mulai meregulasi emosi kita dengan cara mampu mengolah rasa takut dan cemas dalam menghadapi masalah, kemudian resiliansi atau ketangguhan untuk bangkit dengan mencari Solusi dan terus berusaha, yang tentu dibantu dengan koneksi spiritual bahwasannya seorang santri harus merasa didukug oleh Allah Swt serta lingkungan sosial yang sehat selalu mendukung kedalam kebaikan dan dalam keterpurukan selalu menyemangati. Beradaptasi di posisi ini memang tidaklah mudah, bagaimana caranya supaya santri dapat lulus tepat waktu dan ngaji juga jalan. Pangersa ibu nyai mengungkapkan“kalau ada sesuatu hal yang sulit jangan terpaku pada sulit, harus katakan BISA, jika salah satunya ada yang bermasalah entah itu akademik maupun mengaji, maka spiritualismenya sedang bermasalah.”
Regulasi Emosi melalui Pendekatan Spiritual. Salah satu aspek penting dalam kesehatan mental adalah kemampuan regulasi emosi, yaitu kemampuan individu dalam mengelola dan merespons emosi secara adaptif. Dalam perspektif spiritual, regulasi emosi dapat dibangun melalui praktik ibadah seperti shalat, dzikir, dan tilawah Al-Qur’an. Aktivitas tersebut mampu menenangkan sistem psikologis, mengurangi kecemasan, serta membantu individu untuk tidak reaktif terhadap tekanan yang dihadapi. Spiritualitas mengajarkan nilai kesabaran, keikhlasan, pengendalian diri yang menjadi landasan dalam menjaga kestabilan emosi dan berusaha untuk senantiasa mengupgrade niat.
Spiritualitas sangat erat kaitannya dengan kesehatan mental, kesehatan mental itu bukan melulu tentang gangguan jiwa melainkan kecerdasan spiritual yang baik akan mempengaruhi kesehatan mental. Proses terbentuknya sehat mental itu dimulai dari regulasi emosi seperti halnya kemampuan mahasiswa saat mengolah rasa takut dan cemas akibat revisi skripsi maupun tugas kuliah, “kalau kita menganggap hal itu seperti beban maka akan terasa berat, jika kita menganggap hal tersebut sebagai pengabdian maka akan terasa ringan” jelas Pangersa Ibu Nyai.
Resiliensi sebagai Daya Tahan Mental Mahasantri. Resiliensi merupakan kemampuan untuk bangkit dari tekanan, kesulitan, atau kegagalan. Mahasantri yang memiliki landasan spiritual yang kuat cenderung memiliki tingkat resiliensi yang lebih tinggi. resiliensi yakni saat mahasiswa dapat dengan tangguh untuk bangkit jika ada masalah akademik, kalau kita merasa punya tuntutan dualisme maka harus memiliki ketangguhan tersebut. Koneksi spiritual juga sangat penting, dalam hal ini yakni merasa diri didukung oleh Allah SWT, jangan sampai kita menaruh kebahagian, mood, di orang lain karena manusia dapat pergi, namun ketika kita sudah merasa didukung oleh Allah SWT tidak akan tumbuh rasa takut gagal, takut ini dan itu karena kita yakin bahwa Allah mendukung kita.
Hal ini karena mereka memandang setiap ujian sebagai bagian dari proses pembelajaran dan bentuk kasih sayang Allah SWT. Dengan demikian, kegagalan dalam proses pembuatan skripsi atau tekanan akademik lainnya tidak dimaknai sebagai akhir, melainkan sebagai fase yang harus dilalui dengan kesabaran dan usaha maksimal.
Koneksi Spiritual sebagai Sumber Ketenangan Batin. Koneksi spiritual merujuk pada hubungan batin yang kuat antara individu dengan Allah SWT. Hubungan ini menjadi sumber ketenangan, harapan, dan makna dalam hidup kita. Dalam kondisi tertekan, mahasantri yang memiliki koneksi spiritual yang baik akan lebih mudah menemukan ketenangan karena memiliki tempat bergantung yang absolut. Doa, dzikir, shalawat khususnya shalawat ismul adzom dan muhasabah menjadi sarana untuk memperkuat koneksi tersebut, sehingga mahasantri tidak merasa sendiri dalam menghadapi beban kehidupan.
Spiritualitas sebagai Fondasi Kesehatan Mental Mahasiswa Akhir. Spiritualitas berfungsi sebagai fondasi utama dalam membangun kesehatan mental mahasantri tingkat akhir. Dengan spiritualitas yang kuat, mahasantri mampu mengintegrasikan aspek kognitif, emosional, dan perilaku dalam menghadapi tekanan hidup. Spiritualitas memberikan arah, makna, serta nilai dalam setiap proses yang dijalani, sehingga tekanan akademik tidak hanya dipandang sebagai beban, tetapi juga sebagai bagian dari perjalanan menuju pendewasaan diri. Pangersa Ibu Nyai menjelaskan “ada 3 poin agar dapt menghilangkan depresi yakni hadir hate, yakin kepada Allah, harmonis antar teman, guru dan orang tua”. Ada beberapa strategi untuk menjadi mahasantri tangguh yakni harus selalu meng upgrade niat untuk selalu niat mencari barokah ilmu, dan jangan terlalu keras kepada diri sendiri, maksudnya adalah jika kita gagal jangan keras terhadap diri sendiri, kita harus cepat untuk bangkit dan beralih ke plan yang lain. Mahasantri yang akademiknya sudah masuk ke tahap mahasiswa akhir akan butuh makna terhadap apa yang ia lakukan, selain itu dukungan komunitas juga tidak kalah pentingnya dalam baik buruknya terhadap kondisi mental mahasiswa akhir.
Selain itu, lingkungan pesantren memiliki kontribusi yang signifikan dalam memperkuat keempat aspek tersebut. Nilai-nilai seperti kedisiplinan, kebersamaan, kesederhanaan, dan khidmah menjadi faktor pendukung dalam membentuk karakter yang tangguh secara mental dan spiritual. Lingkungan ini tidak hanya menjadi tempat belajar, tetapi juga menjadi ruang pembentukan kepribadian yang utuh.
Dan berikut adalah beberapa peran spiritualisme dalam menjaga kesehatan mental mahasiswa :
- Pemberi Makna (Sense of Meaning), Saat terjebak dalam tumpukan tugas, mahasiswa sering merasa apa yang dilakukan sia-sia. Spiritualitas membantu mengubah perspektif: skripsi bukan sekedar beban administratif, melainkan proses pengembangan diri atau bentuk ibadah dan pengabdian.
- Mekanisme Koping yang Sehat (Coping Mechanism), Aktivitas spiritual seperti doa, meditasi, atau dzikir terbukti secara ilmiah mampu menurunkan hormon stres (kortisol). cara bermeditasi lewat shalat dan dzikir serta dengan pernapasan. Karena pada saat kondisi kita sedang depresi kita harus menghadirkan hati, memiliki keyakinan yang kuat serta harmonis antar sesama yang tentu hal tersebut didapat dari hati yang tenang. Sehingga fase selanjutnya yang harus dilewati oleh seorang santri adalah upgrade niat dalam setiap langkah, manajemen waktu dalam mengimbangi kuliah dan mengaji, ikatan pertemanan yang baik dan positif serta self compession atau jangan terlalu keras pada diri sendiri, seorang santri harus mengetahui kapan waktunya bergerak dan kapan waktunya berhenti sejenak untuk keputusan yang lebih baik. Kepasrahan (Tawakal) dapat membantu mengurangi kecemasan berlebih tentang hasil akhir (nilai atau kelulusan) setelah usaha maksimal dilakukan. Kontrol Emosi dapat memberikan jeda sejenak (mindfulness) agar tidak terjebak dalam kepanikan saat menghadapi revisi yang sulit.
- Harapan dan Optimisme, Tekanan tugas sering memicu rasa putus asa. Nilai-nilai spiritualitas menanamkan keyakinan bahwa “setiap kesulitan pasti ada kemudahan”. Optimisme ini menjaga motivasi mahasiswa untuk tetap bertahan meskipun progres skripsinya terasa lambat.
- Penerimaan Diri (Self-Acceptance), Spiritualitas mengajarkan bahwa harga diri seseorang tidak hanya ditentukan oleh prestasi akademik. Hal ini sangat penting untuk mencegah depresi jika mahasiswa mengalami kegagalan atau keterlambatan lulus. Maka seorang santri jika bisa memanfaatkan waktu yang diberikan oleh Allah untuk kuliah dan mengaji tentu seorang santri ini akan sukses serta bermanfaat untuk banyak orang karena memiliki mental serta mindset yang jauh lebih baik dibanding orang-orang yang tidak pernah merasakan bagaimana rasanya ngaji sambil kuliah.