Pondok Pesantren Salafiyah AR-RAAID – SMP – SMA – Mahasantri

Apakah harga dirimu bisa dibeli hanya dengan sebuah perhatian kecil?

Atau kamu adalah perempuan yang terlalu mahal untuk sekadar dijadikan pilihan? Mari bicara tentang harga sebuah kehormatan.”

Saya Pitriani, dan dalam kesempatan ini saya akan membawakan Mutiara nasihat dari Guru kami tercinta, terkhusus Pimpinan Pondok Pesantren As-Salafi Ar-Raaid Kota Bandung, Ummi Nyai Euis Susilawati, M.Pd.I.”

Mari kita bicara tentang sebuah kekuatan yang disebut “Afifah.”

Niat dan Tauhid sebagai Akar

“Dalam perjalanan menuntut ilmu, sering kali kita terjebak pada simbol, namun lupa pada ruhnya. Nasihat washilah para guru kita khususnya Pangersa Ummi Nyai Euis Allahuyarham sangat jelas bahwasanya: Amal tanpa niat ibarat jasad tanpa ruh. Namun, di mana niat itu bersandar? Ia bersandar pada Tauhid. Kekuatan seorang wanita dalam menjaga kehormatan atau sifat Afifah nya bukan karena takut pada pandangan manusia, tapi karena keteguhan Tauhidnya. Ia menyadari bahwa Allah Maha Menatap. Ketika seorang santriwati memiliki Tauhid yang kokoh, ia tidak butuh pengawasan manusia untuk tetap mulia; ia terjaga karena rasa takut dan cintanya yang hanya bermuara kepada Allah SWT.”

Hakikat ‘Afifah dan Prinsip “Cuek”

“Mari kita bedah lebih dalam: Apa sebenarnya hakikat ‘Afifah itu? ‘Afifah adalah sebuah penjagaan integritas batin. Ia adalah kemampuan seorang wanita untuk menjaga kualitas aqidah dan kesucian akhlaknya di tengah hiruk-pikuk godaan duniawi. Afifah adalah sifat Mujahidah yang berjuang menjaga kemurnian pikiran, lisan, dan martabat diri.

Dalam Dawuhan dari Gus Baha allahuyarham. Beliau mengingatkan bahwa perempuan di akhir zaman harus memiliki sifat cuek terhadap lawan jenis yang bukan halal baginya. Ini bukan soal sombong, melainkan soal keamanan dan harga diri. Faktanya, sifat ‘terlalu ramah’ atau ‘mudah akrab’ dari seorang perempuan sering kali menjadi pintu masuk bagi perilaku yang tidak diinginkan, mulai dari gangguan hingga kekerasan seksual.
Keramahan yang tidak pada tempatnya sering kali disalahartikan sebagai peluang oleh mereka yang memiliki penyakit di hatinya. Maka, sifat cuek adalah perisai. Menjadi tidak terjangkau dan tegas dalam membatasi diri adalah cara paling bermartabat untuk menutup rapat pintu fitnah. Perempuan yang memiliki ‘Afifah tidak butuh basa-basi yang tidak perlu; ia menjaga dirinya dengan jarak yang penuh wibawa.”

Sutradara Peradaban dan Energi “Tutur”

“Seorang wanita adalah sutradara di balik layar kehidupan. Baik buruknya alur cerita sebuah keluarga sangat bergantung pada kualitas Tauhid sang ibu. Dari rahim pemikirannya, lahir keputusan besar—seperti menitipkan anak ke Pesantren. Di sinilah pentingnya menjaga energi dalam bahasa jawa nya Tutur, Wur dan Sembur.

Pastikan ‘Tutur’ atau lisan kita adalah energi yang bertuah—membawa berkah karena bersumber dari zikir dan ketegasan prinsip. Sebagai sutradara, seorang wanita harus menjadi ‘Sumur’ yang jernih; tempat bertanya bagi keluarga. Kekuatan ‘Sembur’ atau doa seorang wanita yang bertauhid akan menjadi pelindung yang menembus langit, menjaga kehormatannya dan orang-orang tercinta meskipun raga tak lagi bersua.”

“Untuk menjadi muslimah yang merdeka, dalam perkataan ki Hajar Dewantara bahwasanya ada 4 pilar yang harus dimiliki seorang perempuan:

  1. Nhandel: Iman yang bulat. Percaya bahwa Allah-lah penjaga sejati saat kita menjaga batasan-Nya.
  2. Kendel: Berani berkarya. Sesuai pesan Imam Al-Ghazali, “jika kamu bukan anak seorang raja maka menulislah” Karena dengan menulis namamu abadi dalam kebaikan.
  3. Bandel: Memiliki kecerdasan intelektual agar bisa menjadi solusi bagi umat.
  4. Kandel: Memiliki mental yang tebal, tidak mudah goyah oleh tren, dan mandiri secara nilai.

Inilah wanita yang jiwanya merdeka; ia tidak mudah hanyut karena pegangannya adalah tali Tauhid yang tak pernah putus. Ketahuilah, sayap untuk terbang menuju kemuliaan itu tumbuh dari punggungmu sendiri melalui ilmu dan ketakwaan. Kamu tidak butuh pengakuan atau keramahan semu jika Allah sudah rida. Jadilah ‘Afifah yang tangguh, yang penjagaannya lahir dari kekuatan Tauhid dan ketegasan dalam menjaga marwah

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top