Mahabbah Kepada Guru, Sesama dan Ilmu

Profil Penulis

Nama Lengkap        : Anggi Dewi Hartini

TTL                             : Cirebon, 10 Agustus 1998

Asal Sekolah              : SMA N 1 Lemahabang

Jurusan/Fakultas     : Tasawuf Psikoterapi 3-A/ Ushuluddin

 

Sungguh, cinta adalah suatu perkara yang sangat agung lagi mulia. Serta memiliki kedudukan tersendiri di dalam diri tiap-tiap manusia. Cinta, dapat menjadi santapan yang sangat lezat bagi hati dan makanan bagi jiwa, serta sedap bila dipandang oleh mata (Qurratul ‘ain). Cinta, merupakan kehidupan yang apabila cinta itu telah hilang dari jiwa seseorang, maka dirinya bagaikan hidup dalam kematian. Cinta, merupakan cahaya, yang mana cahaya itu telah hilang dari hati seseorang, maka dirinya bagaikan berada di dalam lautan yang penuh dengan kegelapan.  Cinta, merupakan suatu nikmat. Sebab bagi seseorang yang tidak mendapatkan cinta maka hidupnya akan dipenuhi dengan kegelisahan dan penderitaan. Sebagaimana yang dikatakan oleh Ibnu Taimiyah rahimahullah “Cinta kepada Allah dan Rasul-Nya adalah merupakan kewajiban yang paling mulia dan merupakan pondasi bagi keimanan yang kuat, juga merupakan pondasi bagi setiap perbuatan yang berhubungan dengan aqidah syariat Dienul Islam.”

 

Cinta atau yang dikenal dalam bahasa Arab Mahabbah berasal dari kata ahabbah-yuhibbu-mahabbatan, yang secara bahasa berarti mencintai secara mendalam, kecintaan, atau cinta yang mendalam. Al- Mahabbah dapat pula berarti al-wadud, yakni yang sangat pengasih atau penyayang. Selain itu, al-mahabbah dapat pula berarti kecenderungan kepada sesuatu yang sedang berjalan dengan tujuan untuk memperoleh kebutuhan yang bersifat material maupun spiritual. Seperti cintanya seseorang yang kasmaran pada sesuatu yang dicintainya, orang tua pada anaknya, guru kepada muridnya, seseorang pada sahabatnya, seorang murid kepada ilmunya, suatu bangsa terhadap tanah airnya, atau seorang pekerja pada pekerjaannya. Mahabbah pada tingkat selanjutnya dapat pula berarti suatu usaha sungguh-sungguh dari seseorang untuk mencapai tingkat ruhaniah tertinggi dengan tercapainya gambaran yang mutlak,yaitu cinta kepada Tuhan.

 

Cinta sendiri dapat dibagi menjadi dua bagian, yakni cinta putih dan cinta hitam. Cinta putih ialah cinta yang dapat membawa kita kepada kemuliaan. Yakni cinta kepada Allah SWT, Rasulullah Muhammad SAW, para sahabat, keluarga, tabi’in, tabi’ut, alim ulama serta para pewarisnya termasuk mencintai guru-guru yang telah mewariskan ilmunya kepada kita sebagai muridnya. Sedangkan yang dimaksud cinta hitam adalah cinta yang dapat menjerumuskan kita kepada kehinaan, yakni cinta kepada thaghut/syaitan,cinta kepada musuh-musuh Allah, cinta yang berdasarkan hawa nafsu, dan yang lain sebagainya. Artinya, kita dapat mulia apabila kita mencintai yang mulia. Dan sebaliknya. Mencintai para guru, serta mencintai sesama makhluk yang telah memberikan kepada kita ilmunya adalah salah satu cara untuk memuliakan diri.

 

Sesungguhnya seorang muslim yang tidak berbuat sesuatu karena Allah SWT, dan tidak pula menetapi ajaran-ajaran dienul Islam serta tidak mencontoh kehidupan Rasulullah Saw. sehari-hari, maka ia tidak akan merasakan manis dan lezatnya iman di dalam hati. Oleh karena itu, dalam mencintai segala sesuatunya termasuk mencintai guru, sesama dan cinta terhadap ilmu maka harus menyertakan Allah sebagai awalannya. Sehingga tidak menjadi sia-sia apa-apa yang telah kita korbannya kepadanya.

Karena

Everyone is teacher.

Everyplace is school.

Terus semangat untuk terus belajar mengembangkan kompetensi diri. Sebab selalu ada celah untuk terus memekarkan kompetensi dan kapasitas diri. Sebab selalu ada jalan untuk merekahkan pengetahuan, mengasah ilmu dan merajut keterampilan.

Do GOOD things in your life.

Tebarkan benih kemuliaan.

Hamparkan bibit kebajikan.

Karena aliran ilmu terus mengalun, dan kemajuan pengetahuan terus bergerak. Lalu kalau kita tidak memiliki kegairahan untuk terus memetik sejumput ilmu, bukankah kita hanya akan menjadi manusia-manusia rongsokan yang out of date?

Tidak lupa untuk selalu layangkan doa dengan penuh khidmat demi keselamatan ayah, ibu, dan para guru serta teman-teman yang selama ini telah memberikan banyak ilmu pelajaran dan pengalaman hidup, dengan gigih. Tanpa kenal lelah.

Bersujudlah. Lantunkan doa agar mereka selalu berada dalam lindungan-Nya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *